Episode Mengenang Ibu

Ibu menatapku

Terbitlah senyum tak terperi di wajahnya

Katanya

Jaga Adik baikbaik

……..

Ibu terbaring di tepian ranjang

Nafasnya terengah

Dipegangnya eraterat tanganku

Mengalir air dari matanya

……..

Sakit ini

Sakit yang paling sakit

……..

Di keningnya nyawa sesak menuju surga.

Saya sebenarnya tidak ingin membicarakan tentang kematian. Karena sesuatu yang ada pasti menjadi tiada.

9 tahun yang lalu, saya nelangsa setengah mati.  Rasanya seperti  menjadi lembaran daun kering yang tertiup angin. Saya melompong kosong, kehilangan tempat berpijak. Terlalu sebentar saya mengenal ibu atas 12 tahun yang saya miliki. Sementara kenangan-kenangan ini seperti ribuan lebah yang terus mengerubung, berdengung tak pernah ada habisnya.

Ibu, betapa saya merindukanmu.

Pada tangan kasarmu, pada suara nyaringmu, pada tangismu, pada kesalmu, pada amarahmu, pada lemahmu, pada ringkihmu, bahkan pada sorot matamu yang perlahan meredup seiring berlalunya nafasmu ashar itu.

Selamat jalan Ibu,  saya sangat menyayangimu, tapi saya tahu Allah lebih menyayangimu, maka saya rela engkau bersama-Nya.

(Mengenang wafat Ibu, 18 Mei 2002).

36 thoughts on “Episode Mengenang Ibu

  1. salah satu amal yg tak pernah terputus,, –> anak shalih yang slalu mndoakan ibunya

    terus berdoa untuk ibu ya mbaa.. insyAllah akan terus didengar doanyaa..
    semoga dapat dipertemukan kembali kelak di surgaNya

    • Aamiin ya Rabb…

      Iya Mas Pai, saya selalu mengusahakan untuk mendoakan Ibu setiap habis shalat. Kalau ga shalat, saya ga mendoakan Ibu. Ntar Ibu sedih.
      hehehehe
      :jawabannya polos banget:

  2. Huhu yang sabar ya😦
    Orang yang kita sayang memang selalu dikenang ya. Apalagi ibu kita :’)
    Banyak2in doa aja. Doakan terus setiap hari, gue yakin ibu lu pasti merasa senang disana :’)

    • Alhamdulillah Allah memberikan saya ketabahan dan kesabaran dalam hal ini. Tapi kadang2 ngeluh jugaa..hehehe (sama aja bo’ong).

      Ngeluhnya gini, misal pas masakan gosong , “Coba ada ibu, pasti saya tinggal langsung makan”.
      hehehe

      kerasa banget deh Mas Gusti, saat Ibu ga ada. Ternyata saya bener2 butuh Ibu.

  3. lebih lama ya ditinggal Ibu ketimbang saya
    tapi yang namanya ditinggal Ibu mau lama atau sebentar pasti rasanya tetap sama, rasa kehilangan yang teramat sangat

    tetap semangat ya tanpa ibu ya🙂

    • Betul Mbak… rasanya sama saja mau lama atau sebentar. Tapi saya masih bersyukur, saya masih mengenal Ibu walau sebentar. Memori saya masih menangkap sosok yang melahirkan dan menyayangi saya tiada dua, ketimbang adik saya.

      Tetap semangat juga Mba Niq.

Silahkan komentarnya disini... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s