Tidak peduli hidup seribu tahun lagi

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi

ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
tapi aku ingin mati di sisimu manisku

setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra,
yang pernah baik dan simpati padaku

tegakklah ke langit luas atau awan yang mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa

nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
yang kedua, dilahirkan tapi mati muda
dan yang tersial adalah berumur tua

berbahagialah mereka yang mati muda

mahluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
berbahagialah dalam ketiadaanmu

(CSD, Selasa, 11 November 1969)

Beruntunglah Soe Hok Gie yang mati muda, mati di usia 27 tahun kurang sehari. Soe Hok Gie meninggal dalam dekapan puncak Semeru pada tanggal 16 Desember 1969. Alam lebih menyayangi dirinya dibanding kekuasaan absolut Soekarno.

Beruntunglah kakek saya yang mati tua, mati di usia 70 tahun. Meninggal dalam dekapan, istri, anak dan cucunya. Bukankah ada sebuah ungkapan, “paling baik itu yang umur panjang dan diisi amal shaleh”?

Dulu saya pernah punya keinginan mati muda. Kenapa? karena saya tidak ingin merasakan menjadi  tua, dimana kerupawanan wajah dan tubuh memudar, dimana “idealisme” kalah oleh “rasionalisme”, dimana kelugasan dan antusiasme menghilang, dimana ingatan semakin tumpul. Saya anggap, masa tua adalah suatu “kekalahan dan ketidakberdayaan”.

Kemudian keinginan itu berubah seiring berjalannya waktu, saya ingin mati tua. Saya ingin hidup lebih lama lagi. Saya ingin memiliki keluarga. Saya ingin menikah. Saya ingin memiliki banyak anak dan cucu. Kasihan sekali suami dan anak saya, kalau kelak saya mati muda.

Tapi, yang paling baik bukanlah mati muda atau umur panjang. Yang paling baik tentu saja apa yang sudah kita berikan untuk orang lain, tak peduli kita nanti mati muda atau malah hidup seribu tahun lagi ;;)

68 thoughts on “Tidak peduli hidup seribu tahun lagi

  1. bisa jadi bahan renungan… mengharukan …

    benar sekali, bukan masalah panjang pendeknya umur, karena kematian sudah pasti akan menjumpai kita, tp yang terpenting adalah apa yang telah kita perbuat diantara hidup dan mati itu…

  2. waahh.. menarik..😀 saya jarang kepikiran mati..
    rasanya belum banyak yang telah saya berikan pada dunia.. (halaah)😀
    btw lam kenal yaa..🙂 nice blog..

  3. yupz,aku juga ga pernah mikirin mau mati tua/muda yang jelas aku ingin hidupku berkualitas dan mati dengan meninggalkan kenangan yang bisa di kenang selamanya🙂

    • Setelah kita mati, beberapa generasi dari keturunan kita akan mulai melupakan kita, Saya saja tidak tahu nama ayah dari kakek saya, Artinya kenangan itu berhenti hanya sampai dua atau tiga generasi. selanjutnya terlupakan. Semoga dari ini, kita bisa meninggalkan kenangan yang baik. yang akan di ingat oleh generasi penerus kita.

  4. hidup terlalu menarik untuk dihabiskan dengan berbagai cara asal bukan cara yang menumpuk dosa.=(
    kadang nggak habis pikir dengan mereka2 yang mati muda karena cara yang salah hanya gara2 putus cinta, nggak bisa beli BB, atau lainnya yang gak penting.
    huff,, hidup cuma 1x, mati juga 1x, dan tidak diketahui berapa lama kita hidup, jadi dinikmati saja.=)

    • Haa,,, mengena banget nih Mas. Saya juga sering terheran-heran dengan orang yang memutuskan hidupnya, memutus sepihak perjanjian usia. Apa ia tidak takut ya karena mendahului?

      Okey, let’s flow…

  5. ah Gie.. pemuda yang terlalu idealis dirimu.. seharusnya dikau belajar bagaimana menjalani hidup yang bijak di dunia yang kejam ini..
    sehingga kau merasa mati muda lebih menyenangkan..
    dan ternyata itu kesampaian untuk mu..

  6. mau gitu idup seribu tahun lagi..???
    ga mati-mati trus sakit..
    udah gitu banyak masalah keluarga, kerjaan…
    belum anak cucu minta jajan.. minta di gendong…
    wwuuuaaahhh… ribet dwehh..
    wkwkwkwwk…..

  7. Ooo,… hidup seribu tahun lagi biasanya cuma para pahlawan tempoe dulu, namanya tetap idup. kalau saya, malah nambah beban nantinya….😆

  8. Tak masalah saya mati muda atau mati tua. Terserah Allah yang menakdirkan. Saya hanya menjaga tubuh ini sebaik-baiknya agar tetap hidup. Itu saja. Juga, saya (kita semua) harus siap mati kapanpun.

Silahkan komentarnya disini... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s