Thinking about laundry

Dari keseluruhan aktifitas hidup, sepertinya lingkaran cuci-jemur-angkat-setrika-masuk lemari-pakai lagi adalah satu-satunya hal yang paling membuat saya bosan.

Sejak kecil saya paling ogah-ogahan bila disuruh melakukan yang satu ini. Hal ini terus terjadi dalam hidup saya sampai sekarang, mungkin sampai saya tua. Ibu saya sampai jengkel dan memarahi saya “Kalau begitu, jangan ganti baju. Pakai terus bajumu sampai hilang sendiri dan tidak perlu dicuci”.

Sekarang saya sudah ‘hampir’ melepaskan status mahasiswa. Selama 4 tahun ini, saya lebih baik menghemat uang pulsa untuk me-laundry. Tapi saat saya tidak punya uang sama sekali, saya bisa juga bersentuhan dengan sikat, deterjen dan setrika.

Jika manusia normal mencuci baju satu ember dalam waktu 1 jam, saya bisa menghabiskan waktu 8 jam.

  • Merendam pakaian, saya perlu 30 menit. Saya juga pernah merendam pakaian seharian, dan baru besoknya saya cuci karena lupa. hehehe
  • Mencuci , saya perlu 10 menit. Saya tidak begitu ahli mengucek. Jadi senjata andalan saya adalah sikat. Cukup sikat bagian kerah, ketek, saku, bagian depan, belakang, peras, beres deh.
  • Membilas, saya perlu 20 menit. Bagian mencuci yang paling berat adalah proses membilas. Dimana tubuh harus dalam posisi 75 derajat, sedikit menunduk kemudian naik turun. Tips dari ibu saya agar tidak terlalu kebanyakan membilas, kurangi deterjennya. Jadi biasanya saya cukup membilas 2x. Apalagi sekarang sudah ada softener sekali bilas.  Jadi bisa menghemat kalori yang harus keluar. Tapi pengalaman saya, softener sekali bilas tidak banyak membantu.
  • Merendam dengan softener biar wangi, saya perlu 30 menit sampai 6 jam. Bila dibagian petunjuk penggunaan softener tertulis cukup merendam selama 10-15 menit, sepertinya petunjuk itu sia-sia bagi saya. Saya merendam paling cepat adalah 30 menit. Sayang softenernya dibuang gitu aja ga dimanfaatin maksimal. Maksud hati biar meresap sampai serat pakaian.
  • Jemur, saya perlu 30 menit. Inilah kunci kenapa proses mencuci saya begitu lama. Saya biasa menjemur jam 4 sore ke atas, saat matahari tidak begitu terik. Lho? aneh kan?! Iya, saya kan anak kos, yang tempat jemurannya rebutan, ada celah dikit jemuran aja harus saya manfaatkan dengan baik. Selain itu menjemur jam 4 sore memberi saya keuntungan, saya tidak perlu berpanas-panas ria sambil meras – melintir baju.
  • Angkat, cukup 3 menit. Ini yang paling singkat. Cukup sret sret sret dengan profesional saya mengangkat jemuran.
  • Setrika, 2 sampai 3 jam. Selain membilas, sepertinya ini bagian yang paling sulit, merepotkan, dan membosankan. Biasanya saya menyetrika begitu bangun tidur. Jadi badan masih fresh, udara masih dingin dan pikiran masih jernih. Bagaimanapun menyetrika memerlukan konsentrasi yang tinggi. Tapi memang paling asik menyetrika sambil nonton tv atau mendengarkan musik.

Inilah pengalaman saya tentang cuci-cuci-jemur-jemur.

Bagaimana dengan kalian???

7 thoughts on “Thinking about laundry

  1. sudah mo 3taon ini pake laundry kiloan,
    kurang puas sih, tapi yaaaah gak pa2 lah daripada bete setiap cucigosok😀
    mo andelin pembantu, susah cari pembantu jaman sekarang
    jadi yaaa gitu deh😀

    eh tapi dulu aku suka bagian cucinya, giliran gosok yg bete, karena panas itu hehehe

  2. saya juga lumayan bosan dengan kegiatan ini…

    tapi masalah merendam kelamaan dalam softener biasanya nggak baik…

    soalnya pakaian bukannya jadi lembut malah jadi sedikit kaku…

    nggak tahu juga apakah bergantung dari produk yang kita gunakan…

Silahkan komentarnya disini... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s