Dunia Sunyi

Setiap kali pulang ke rumah emak (nenek saya), dia lah yang pertama kali membukakan pintu. Kemudian ia memeluk saya dan tertawa. Setelah itu ia berlalu dan menyiapkan segelas besar teh manis, yang manisnya bukan kepalang karena 3 sendok besar gula putih ikut dilarutkan bersama teh buatannya.

Dia adalah bibi saya, bibi Nunung. Menurut emak, ia terlahir normal. Tumbuh menjadi gadis cilik dan bersekolah.  Sampai Kelas 1 SD. Hingga pada suatu hari demam menyerang dan secara perlahan-lahan pendengarannya juga suaranya terlepas dari tubuhnya.

Saya membayangkan selama 6 tahun dunia penuh riuh dan ramai seketika menjadi sunyi dalam dunianya. Tidak hanya pada pendengarannya, fungsi otaknya pun ikut menurun.

Seringkali kami hanya duduk berdua di beranda samping rumah. Saling “berbicara”. Dia menggerakkan tangannya ke udara dan menciptakan “bahasanya” sendiri. Sedikit saya pahami. Sedikit pula saya hanya bisa tertawa karena tidak paham apa yang ia coba sampaikan.

Ketika aki (kakek) saya meninggal. Dia tidak menangis. Tapi dari wajahnya, saya tahu dia kehilangan. Dia tidak mandi, juga tidak berganti pakaian selama 2 hari. Sejak itu, dia tidur di kamar aki. Dia selalu bergumam dan mengulang-ngulang “cerita” tentang orang yang mengusung keranda, sakit yang aki derita atau menunjukkan foto dirinya bersama aki saat kecil.

Saat saya menyadari usianya semakin bertambah tua, perasaan saya semakin terasa sesak. Saya menyisir rambutnya, helai demi helai uban muncul di rambutnya yang selalu di potong pendek. Ia selalu meminta saya mencabutnya. Jelek katanya. Usianya sudah lebih dari 40 tahun. Wajahnya sudah mulai ditaburi kerut halus, juga tangannya yang gemuk sekarang terasa semakin hangat.

Perputaran waktu adalah sesuatu yang normal bagi kita. Tapi bagi dia, waktu bukanlah sesuatu yang perlu diperhatikan. Saat terbangun kita mendengar suara keran air di kamar mandi, suara keponakan menonton Sponge-bob, suara mesin cuci yang berputar. Tapi ia tidak mendengar apa-apa. Sunyi.

Ia terbangun dan memasukan pakaian ke mesin cuci jam 2 malam. Kemudian mengeringkannya dan menjemur di pagi buta. Saat orang lain terbangun ia tertidur dengan pulas. Ia mengunci pintu depan setiap saat dan menyimpan barang-barang seperti shampo, sabun, deterjen sampai kaleng makanan di kamarnya. Ia tertawa-tawa melihat sinetron di Indosiar, entah karena ia merasa lucu ada orang yang naik Elang atau tertawa karena aktor dan aktrisnya.

Di balik semua kekurangannya. Dia adalah satu-satunya wanita yang memiliki tawa paling ikhlas. Dia tertawa bukan karena kita membuat lawakan, tapi karena sesutu yang lucu terjadi di pikirannya.

Saat malam mulai turun, selepas Maghrib itulah, dia duduk di teras rumah. Ketika saya hendak menemaninya, dia menyuruh saya masuk ke dalam rumah sembari melingkarkan tangan di dada tanda “orang kedinginan”.

Apa yang ia pikirkan? apakah dia sedang menikmati “keheningannya”? Apa yang dia inginkan? “Allah selalu melindungi mu,bi. Allah mengerti setiap “diam” mu” 

30 thoughts on “Dunia Sunyi

Silahkan komentarnya disini... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s