3M : *between* Marchei, Married and Math

Hahaha… kali ini saya ngaku deh kalo saya beneran lama hiatus *malas tepatnya*. Udah 2 bulan blog ini buluk banget karena ga pernah di sentuh. Daaaaaaan, sebuah ide muncul untuk “memperalat” abang saya, Patrick Diaz mengisi salah satu postingan. Bener kata dia, blog Marchei Journey ini emang amburadul banget temanya.

Sekilas tentang si “penulis lepas” ini adalah dia kakak sekaligus teman saya, dulu dia adalah orang yang ngebela pertama *pasti!* kalau ada yang berusaha memojokkan saya, pendengar yang baik, dia pemimpi, pecinta hidup, teman diskusi masalah novel dan film *tentang ini, dia tiada dua*. Great! saya udah hampir 5 tahun tidak bertemu wajah dengan dia. Sempat lost contact hampir 3 tahun. Daaan, apa yang sekiranya Tuhan ingin pertemukan, rupanya akan Ia pertemukan.

Check this out tulisannya… Agak2 berat tapi saya yakin, kalian bakal suka😄

**

The 1st M related to a good friend of mine, Marchei. This kinda girl (we haven’t talked in ages, by the way) easily asked me if I would like to write something on this gorgeous blog.  So, M, First, lemme tell you that as for me, it’s a big honor J. Awalnya dengan kultur tulisan yang telah ter-posting di marchei’s journey ini, saya sempat bingung tema tulisan apa yang bisa diberikan dari penulis kelas tiarap seperti saya. L The 1st M membebaskan tema tulisan. “Boleh patah hati, boleh jatuh hati”, begitu katanya. Nah karena soal hati itu terkadang sulit untuk digeneralisasikan, dan kadang ekspresi penulis dengan mudahnya didiskreditkan oleh pembaca, dianggap galau dan sebagainya, maka dari itu, saya memutuskan untuk memanggil 2 M berikutnya, si Married dan si Math. So, we have 3 M now. Marchei, Married and Math, right ? So here they are…

The 2nd M belongs to Married. Saya meninggalkan kota kelahiran pada usia 18 tahun dan setelah menyelesaikan pendidikan, saya kembali pulang pada usia 24 tahun. Selama satu bulan di awal-awal saya mulai menetap di Jambi, salah satu tema sentral yang kerap menjadi perbincangan baik serius maupun lelucon adalah Married. Berbagai statement tentang pengkultusan married yang datangnya dari surga pun tumbuh subur bak jamur. Di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah bahkan sudah berkembang sebuah ‘teori’ yang menetapkan umur ideal sesorang ‘seharusnya’ menikah. Di lingkungan orang tua bahkan masih dengan ‘mudahnya’ berbicara “Nanti pasti ada jalannya, Tuhan pasti akan membukakan pintu rezeki”. Saya akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa pernikahan (menikah) sudah sedemikian terintegrasi menjadi pola kebudayaan massal, bukan lagi menjadi sebuah pilihan sadar dan rasional yang lahir dari dua individu.

The 3rd M belongs to Math. And yes, I do love math. Matematika membuat kita mampu berpikir rasional, bahkan bukan hanya di soal-soal praktis. Mari, kita segarkan lagi sistem pengetahuan kita. … ^^

Andai di dalam keranjang ada 1 buah jeruk, lalu kita masukkan 1 buah jeruk kedalamnya, lalu kita masukkan 1 buah jeruk lagi, maka jumlah jeruk dalam keranjang tadi menjadi 3 buah. Benar ? Andai kita mempunyai 30 buah jeruk, lalu dibagi rata ke 3 orang, dimana setiap orang diasumsikan secara konstan akan mengkonsumsi 1 buah jeruk per hari, maka dibutuhkan waktu 10 hari untuk ketiga orang tadi menghabiskan total 30 buah jeruk yang kita punya. Benar? Pertanyaannya sekarang, berapa jumlah jeruk yang harus disediakan selama 30 hari untuk mencukupi kebutuhan konsumsi jeruk dari ketiga orang tadi? Lalu berapa harga satu buah jeruk (diasumsikan satuan ukur jeruk di pasar adalah per buah)? Diasumsikan saja harga jeruk stabil seumur hidup, berapa total biaya yang dikeluarkan untuk memastikan kebutuhan konsumsi jeruk 3 orang tadi terpenuhi? Maap , ribet ya? Ya udah ayok kita spesifikkan variabel nya…

Dari hasil penelitian saya di beberapa lingkungan, dengan total ‘responden’ mencapai 50 orang, rata-rata jumlah penghasilan maksimal dari pasangan yang sudah menikah maupun yang berencana menikah berkisar di angka 3.5 juta per bulan. Dengan penghasilan maksimal 3.5 juta perbulan, berarti rata-rata pengeluaran per hari dalam satu bulan adalah Rp. 166.666. Pertanyaannya apa saja kebutuhan konstan yang bisa dipenuhi dari Rp.166.666 untuk 2 orang yang berencana menikah dan berencana melahirkan dan membesarkan anak pertama, anak kedua, anak ketiga? Apakah hanya jeruk saja atau ada nasi, lauk, susu, pakaian, pakaian lebaran, biaya rumah sakit, biaya sekolah, listrik, air, telpon, bbm kendaraan, kredit perumahan, kredit mobil, dan biaya lainnya? Bisakah keluarga ini survive pada saat tingkat kebutuhan maksimal sementara tingkat pendapatan tidak mengalami kenaikan yang sebanding? Jika tidak, bagaimana sistem pengolahan finansial yang telah direncanakan untuk menutup gap antara tingkat pendapatan dan kebutuhan? Apa akibatnya ketika kebutuhan tetap gagal terpenuhi? Siapa yang akan terkena dampak buruk ketika perencanaan pengelolaan sistem finansial keluarga ambruk? Terakhir, pertanyaan saya, apakah Tuhan lebih menghendaki kaumnya untuk pasrah atau Tuhan lebih menghendaki kaumnya untuk berpikir dan berusaha?

Nah, itu hanya 2 M yang saya undang. Bagaimana jika saya mengundang M M yang lain, Mentality (a person’s particular way of thinking) misalnya, dimana the 4th M ini akan sangat berpengaruh bagi setiap orang dalam menyikapi masalah dan mengambil keputusan.

Maka dari itu, ayok, do math before married, yok…

*

5 thoughts on “3M : *between* Marchei, Married and Math

Silahkan komentarnya disini... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s