Friend zone : A war zone

Baru saja kemarin saya selesain menonton DVD yang berjudul One Day, pemerannya si cantik *yang tidak pernah membosankan* Anne Hathaway as Emma dan Jim Sturgess as dexter. Dexter and Emma are shown each year on the same date to see where they are in their lives. They are sometimes together, sometimes not, on that day.  Berlatar Skotlandia era 1980’an film ini begitu manis untuk di tonton. Tapi bukan tentang film ini yang ingin saya bahas. Melainkan kisah Emma yang entah apa dan bagaiman, tetap menjadi sahabat bagi Dexter. Walau benih-benih cinta telah tumbuh, tapi ia selalu meyakinkan, We just friend. Ouccchhh…. Pernah ngalaminnya?

Sebuah awalan yang engga akan pernah ketemu akhirannya, for some people Friend zone is like a war zone between expectation and reality, rasanya menyakitkan tapi terkadang begitu menyenangkan. Seperti kisah Dr. Ross Geller dan Rachel Green di Serial F.R.I.E.N.D.S, mereka berdua mendapatkan julukkan Friend zone karena kedekatan mereka yang seolah mengisyaratkan bahwa mereka saling jatuh cinta tapi terhalang dengan status pertemanan mereka yang sudah lama terjalin.

Seperti akhir-akhir ini di Twitter, Facebook, Path dll, yang merupakan saksi bisu dari kegalauan beberapa orang yang terjebak dalam Friend zone, fenomena lama dengan packaging baru nampaknya. Friend zone sekarang sudah mulai buka cabang bukan hanya Friend tetapi juga Brother zone, so wierd I think..oke to be honest saya pun terjebak di dalamnya, but thanks God perasaan itu engga bertahan lama karena setelah saya pikir-pikir aneh rasanya kalau apa yang sudah terbiasa akan berubah menjadi sesuatu yang tidak biasa.

Pada kasus Friend Zone sendiri banyak jenisnya mulai dari yang sama-sama suka tapi ragu, lalu ada yang bertepuk sebelah tangan, dan ada juga yang sudah pacaran terus putus lalu berlanjut jadi temen tapi masih saling nyimpen perasaan, dan lain sebagainya. Ironis manis.. hahaha😀 Tapi begitulah keadaannya, mungkin istilah “bisa karena terbiasa” juga berlaku di dunia pertemanan dengan lawan jenis. Jadinya Friend zone itu tercipta. Saya secara pribadi lebih memilih pacaran dengan orang yang bisa membuat kita nyaman dibandingkan dengan orang yang hanya sekedar sesuai dengan kriteria tapi bikin kita jadi engga nyaman, tapi istilah nyaman sendiri engga hanya bisa ditemukan di dunia percintaan aja, di dunia pertemanan pun ada istilah nyaman. Dan istilah nyaman itu yang menciptakan perasaan baru diantara hubungan pertemanan dengan lawan jenis, terlalu rumit mungkin

Ya, sederhana tapi rumit, mungkin ada yang pernah tau istilah “Pacar jadi sahabat masih mungkin, tapi sahabat jadi pacar akan rumit”,  atau kedok yang awalnya Kakak – Adik berubah menjadi saling suka, saling cinta.

Terkadang para pelaku Friend zone selalu menyangkal adanya perasaan itu, seperti “Ah..apaan sih dia kan sahabat gue, dia udah gue anggep sebagai sahabat yang paling spesial jadi engga mungkin lah kita pacaran” atau mungkin “Kamu itu sahabat aku yang paling luar biasa mengerti aku, jadi kayanya engga mungkin kita bisa pacaran”, terlalu banyak alasan klise yang terus diciptakan dalam kepala sehingga terekam jelas dan selalu diputar disaat timbul pertanyaan tentang status hubungan yang engga jelas, mungkin bagi sebagian orang “pacaran” itu hanya sekedar status dan sebuah pengakuan terhadap lingkungan, apa pentingnya dari sebuah status?

Bagi kebanyakan orang status itu dianggap sebagai sebuah komitmen atau new chapter disebuah kehidupan, bagi saya “Pacar” tidak melulu menjadi tolak ukur : Saya harus bahagia dengan siapa. Saya hanya memprioritaskan hidup saya, saya harus bahagia karena diri saya sendiri dulu, baru turut campur orang lain setelah itu.  Makanya saya lebih senang mengatakan “Jalani saja dulu, pasti  someday ada pintu yang akan terbuka buat kita..”. Karena jujur, mulai saat ini saya enggan “berpacaran”. Jenuh dengan komitmen kekanak-kanakan. Jika hati saya siap, menikah saja. Tuhanpun lebih ikhlas karena tidak bertentangan dengan dosa *beuuuugh, ehmmm,,, daleeem”. cuma banyak yang salah mengartikan pernyataan saya tersebut, karena dianggap memberikan harapan palsu.

Kembali lagi ke Friend zone, kata beberapa orang Friend zone seperti neraka karena sangat menyiksa, tapi bagi sebagian orang lainnya malah menikmati keadaan tersebut. Saya pribadi merasa sudah lelah dengan segala istilah tarik-ulur yang sama sekali engga ada akhirannya, maka dari itu saya memutuskan untuk berhenti menjadi pemeran dalam scene Friend zone dan kembali menjadi diri saya sendiri. Sahabat yang baik, yang mencintai cukup dalam diam. Karena terlalu melelahkan digantungkan dan bermain dengan waktu.

Friend zone itu bukan takdir melainkan pilihan. Kita yang memilih untuk membuat zona tersebut dan kita juga yang harus memilih jalan keluar mana yang harus ditempuh, saran dari saya sih lebih baik jangan bermain di area tersebut kalau memang “hati”nya tidak sekuat super hero, bukan berarti hati saya kuat ya..!! bermain di area tersebut butuh strategi, kekuatan, kesabaran, dan waktu. Jadi saya rasa engga semua orang bisa bertahan perang diantara harapan dan kenyataan. Terbukalah berbicara karena satu hal yang pasti, semakin lama kalian memendam sesuatu semakin sulit kalian melepasnya, jadi si lahkan pilih sendiri jalan mana yang mau kalian tempuh : Mengalah dan Melepaskan atau Jujur dan bertahan?It all depens on you guys.

*thankyou for the big inspiration Sasha banyak ngutipnya😛

6 thoughts on “Friend zone : A war zone

  1. Saya percaya, Film The vow ini sengaja di setting untuk mengarahkan penonton menuju ke kesimpulan “kisah ini tidak adil bagi Emma, juga bagi Dexter.” Kenapa saya anggap sengaja? CMIIW, karena si scriptwritter nya nggak nampilin scene dimana si Emma sedang menulis, atau bergumam, atau bercerita ke sahabatnya, atau apapun yang menggambarkan tentang perasaannya, tentang kebahagiaan dan ketidakbahagiaannya selama hidup. Yang ditampilkan selalu hanya sepintas raut wajah Emma yang teduh sekaligus misterius. Sehingga akibatnya penonton lupa untuk bertanya “apakah Emma bahagia?”
    Ini tentang The Vow.

    Kalo tentang Friendzone, mmmmm…gini,
    Dari salah satu quote yang pernah ku baca, “best relationship: talk like best friends, argue like husband and wife, play like children, and protect each other like brother and sister”
    Itu mungkin gambaran idealnya sih, but when things get complicated, tidak bisa dipungkiri bahwa labeling itu sebuah kebutuhan. Siapakah si Marchei ini bagi saya, atau siapakah si saya ini bagi si Marchei.
    Tapi apakah si cinta yang agung (yang membebaskan manusia dari semua belenggu) itu harus dikebiri menjadi pilihan praktis atau sekat-sekat seperti “friendzone” atau “abang-adek zone” atau “in a relationship” atau “engaged”
    Saya pribadi lebih memilih untuk memberi tempat agar senyawa cinta yang agung itu bisa berproses, dia akan membeku, mencair, mendidih, mengkristal, menyublim hingga pada satu titik dia akan mendapatkan bentuk akhirnya yang utuh.
    Karena bagiku jika mencintai sudah tidak membebaskan lagi, apa tak sebaiknya kita menjadi anjing saja?🙂

    Oh ya sey, coba tonton pilem “Closer”, “No String Attached”, sama “Vicky,Christina, Barcelona”. Di 3 film ini, kita bisa lihat beranekaragam ‘kisah’ yang tidak melulu ‘harus terburu-buru’ dilabelkan. Okay, nanti posting di blog ku ya!

    Salam.

  2. Kalo gue beda lagi bro,,Kira2 8 thn lalu wkt w masih sma kelas 1 w pnya temen cowok dan skr jd sahabat sejati dan dia punya adek cewek sebut aja namanya “bunga” beda 1 thn ma w, awalnya w ga ada perasaan ma dia sampai shbt w sering bgt ngajak main ke rmh nya,,dan sering ktemu adeknya becanda bareng,lebih banyak dia becandain w krna w tipe org pendiam..
    singkat cerita 2 thn terakhir ini setiap sahabat w main ke rmh w selalu aja w deg degan setiap ktemu adeknya gatau kenapa perasaan w,,maklum belum pernar punya pacar…
    dan w ngerasa dia suka ama w…dan pas w mo pergi ke sidang w tanya dia di bbm alamat sidang nah dia mo ikut…okelah dia ikut awalnya w gak mau karna takut ganggu wkt dia kerja..
    keesokan hari w sebagai anak muda update statuslah w di fb kalo w nyaman sama dia,suka sama dia,berharap dia mau jadi cwe w..gataunya kakanya yg cewek liat status w kayak gituh dilaporin lah ke cwek yg w suka itu/bunga… trus w tanya kakaknya itu jawaban dia apa biar di kirim di message fb screenshotnya itu…TERNYATA..
    Jawaban dia “Kalo dia punya perasaan suka sama aku sih itu terserah dia mba karna aku anggap dia itu kayak kakaku sendiri gak lebih”
    Seketika gue hancur bro kena brother zone,,belom aja nembak udah di mentahin gitu aja bro…
    trus w mikir lagi apa karna dia nolak secara halus atau karna dia gak suka sama w yak…..
    itu pengalaman buat gue ,,itu terjadi bulan ini tepatnya 18/9/2015 kemaren…perasaan w nyesek banget…kacau jadinya

  3. Pingback: Hubungan Tanpa Status Bukan Pilihan yang Menyenangkan Untuk Dijalani | Ehloo.Com

Silahkan komentarnya disini... ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s